Kita sebagai salah satu pemasok kopi terbesar didunia pasti bangga lah ya. Kopi dari tanah nusantara terkenal, kenikmatan rasanya masyhur di dunia. Dan perlu temen temen ketahui, kadang ada juga provinsi kita yang bener bener di fokusin untuk keperluan agribisnis untuk pendapatan negara tercinta kita.
Tapi pernah ga temen temen kepikiran tentang gimana proses itu kopi mulai dari panen sampe bisa kita nikmatin dalam secangkir kopi? Atau pernah ga terlintas dikepala temen temen, gimana perjuangan para petani kopi untuk bisa mengirim rasa kopi miliknya ke tenggorokan kita, untuk bisa membagi manfaat kopi miliknya ke jasmani kita? Pasti gapernah.. Hayo ngaku jangan pernah pernah aja. Hhahaa
Nih admin kasih tau sedikit gambaran perjuangan para petani di negeri kita. Ya tiap petani pasti ada masalah masing masing deh, kali ini kita bahas petani kopi aja ya. Ya ga sinkron juga blog tentang kopi bahas petani padi atau karet. Iya kan..
Petani kopi kan banyak di negara kita nih, tapi admin kerucutin ke petani di Liwa sana, sebuah daerah di provinsi Lampung. Lampung barat tepatnya. Tempat dimana biji kopi gahar berasal.
Kalo temen temen mau tau, para petani itu panen dalam setahun ga selalu tiap bulan panen. Ya dalam setahun bisa 2 kali panen deh. Dan sistem penyebaran kopi mereka ga se mudah yang kalian pikir, kalo kita mah enak kan pangsa pasar dijabodetabek sini banyak. Ada kedai kopi, banyak tempat nongkrong, pokoknya banyak dh tempat buat ngebuang kopi. Kalo mereka ngga bro and sis. Ya mereka kira2 cuma punya beberapa lubang aja buat ngebuang hasil panen nya ke masyarakat luas. Kasarnya mah, ya gw jujur aja mereka ga punya banyak pilihan untuk menjual kopinya. Yang mereka pikir adalah gimana kopi mereka habis terjual sebelum rasa kopi berubah, dan mereka bisa melangsungkan hidup dengan hasil penjualan kopi mereka sampai ketemu panen berikutnya.
Gw juga nulis tentang ini bukan cuma perkiraan doang, ini udah gw teliti dan analisa sedemikian rupa. Halah..
Ngga deng, ini jujur kita transparant aja. Kebetulan patner secangkir kopinya admin blog kopi gahar ini, punya kebun di Liwa sana. Ya ga luas sih, tapi cukup lah hasil panen nya buat dinikmati warga sekecamatan. Hahaha..
Doi sering bnget cerita, share, berbagi cerita tentang keluh kesah kehidupan para petani kopi di Liwa. Mereka bertahun tahun menjalani sistem jual beli yang kami pikir bener bener ga menguntungkan untuk kedua pihak selaku penjual dan pembeli.
Nasib mereka ga berbanding lurus terhadap maraknya tren minum kopi di kota besar Indonesia. Banyak hal yang jadi kendala untuk tersebarnya komoditas mereka itu. Antara lain cuaca yang ga menentu kadang bisa bikin panen gagal. Bayangin aja dalam tahun itu panen mereka gagal. Uang darimana buat beli beras? Lauk pauk? Dll. Terus kadang ada juga masalah di hal lokasi geografis yang kadang menghasilkan kopi dengan mutu ga stabil, itu jg bisa merusak harga kopi, dan yang paling ekstrim adalah. Kecocokan harga jual-beli kopi yang terkadang ga bersimbiosis mutualisme. Kenapa ko ga simbiosis mutualisme min? Nih admin jelasin. Lu semua pada tau kan arti tengkulak? Nah itu pilihan tunggal para petani kopi di Liwa sana, mereka para petani kadang ga nemuin satu kesepakatan yang cocok terhadap para tengkulak. Tapi karena mereka pikir tu kopi ga bisa di tahan lama lama dalam gudang mereka, ya mau gamau mereka lepas dengan harga yang di tawarkan para tengkulak di daerah masing masing.
Udah kebayang kan gimana tekanan para petani kopi di sana? Nah itu dia kaya gitu bayangan nya. Emang ada yang bilang 'jangan salahkan para tengkulak, mereka udah membantu para petani'. Iya emang ga ada yang salah sih, mungkin admin pikir yang salah itu sistem nya. Sistem jual-beli pertanian kita itu udah mendarah daging, jadinya begitu aja dari dulu. Statis dan ekstrim. Coba bayangin, pake logika aja. Logika bego begoan aja ya ga. Seorang bandar agrobisnis bisa berlimpah materi, harusnya para petani kita juga sama dong. Tapi kenyataan nya petani kita gimana sekarang? Mana ada petani yang bener bener tercukupi secara materi? Jarang coyy.. Kecuali tu petani merangkap menjadi bandar. Cukup jelas kan apa yang gw sampaikan di postingan kali ini? Para petani kopi ga se bahagia yang kalian pikir, ga se indah yang kalian bayangin, punya kebun, tiap waktu panen dateng, tinggal petik hasil kebun atau sawah terus di jual. Gak kaya gitu. Mereka punya masalah tapi mereka tetap yakin dan percaya kalo rejeki mereka udah diatur sm sang pencipta, mereka selalu berusaha tersenyum dalam kerendahan diri mereka. Meskipun mereka gabisa memutar fakta bahwa hasil tani mereka benar benar di nikmati orang banyak dengan bayaran yang ga sesuai dengan keperluan mereka. Pahit dan miris emang, tapi harus mereka hadapi. Kalo kata James Hetfield mah 'Sad But True' :D
Nah dimulai dari cerita ini kami berperan, kami kopi gahar adalah kopi dengan kualitas terbaik dari kebun kopi di Liwa sana, kami mem by pass para tengkulak di Liwa, bukan niat kami ga menghargai professi mereka dalam memasarkan kopi, bukan niat kami menghalangi mereka membantu para petani menjual habis kopinya, bukan pula niat kami mengambil sebagian dari rejeki mereka, bukan niat kami juga menjadi kompetitor mereka. Tapi emang jadi keharusan kami memperjuangkan perekonomian mereka para petani kopi di Liwa, udah jadi keharusan kami membuat mereka tersenyum lepas tanpa ada masalah diotak mereka masing masing.
Ada lantunan doa paling indah dari para petani kopi dalam setiap cangkir kopi yang kita nikmati, ada rayuan dan pujian paling dahsyat terhadap sang pencipta dari para petani kopi kita. Semata mata demi mempersembahkan kehidupan dan masa depan yang jauh lebih baik terhadap anak cucu mereka.
-Kopi Gahar-
Minggu, 24 Juni 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




0 komentar:
Posting Komentar